Pinggiran, Unggulan

Rabu, 29 Mei 2013 09:48:00 - Posting by redaksi - 577 views

Sekolah di daerah pinggiran, kerap menjadi ‘sasaran’. Kalau ada guru berlebih di daerah perkotaan, pindahkan saja ke sekolah pinggiran. Begitu pun, kalau ada sarana dan prasarana pendidikan yang lebih, hibahkan saja ke sekolah pinggiran. Apalagi kalau perkara Ujian Nasional (UN), ramai-ramai mengasihani sekolah pinggiran. Takutnya bakal kalah bersaing dengan sekolah yang ada di daerah perkotaan. Alasannya, ya kurang lebih itu tadi, sekolah pinggiran banyak yang minim fasilitas dan minim tenaga pendidik yang berkualitas.

Tapi mereka lupa bahwa inti dari pendidikan adalah prosesnya. Pendidik berkualitas bukan jaminan menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Sarana dan prasarana yang melimpah juga bukan jaminan. Tidak sedikit, sekolah pinggiran mampu mencapai prestasi tinggi, lewat pendekatan proses pendidikan yang tepat. Buktinya bisa disimak dari pencapaian anak didik sekolah pinggiran pada UN beberapa tahun terakhir.

Di Jawa Timur misalnya, sekolah pinggiran di daerah pinggiran seperti Lamongan atau Banyuwangi bisa berprestasi tinggi, dibanding daerah perkotaan dengan slogan Kota Pendidikan atau pun Barometer Pendidikan Nasional. Dan hampir merata, pada banyak provinsi di Indonesia, sekolah pinggiran bisa berprestasi tinggi dalam UN dibanding sekolah yang ada di pusat kota yang punya daya dukung sarana lebih bagus, daya dukung pendidik berkualitas, dan atmosfer pendidikan yang lebih memadai.

Saat membacakan hasil UN SMA dan sederajat pekan lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan bila hasil UN telah membuktikan bahwa kualitas sekolah tidaklah tergantung pada wilayah. Provinsi DKI Jakarta, baru pada tahun ini menempatkan anak didiknya sebagai peraih nilai terbaik setelah pada gelaran UN sebelumnya gagal. Kondisi yang sama juga dialami oleh anak didik di Kota Surabaya.

Namun tentu data di atas bukanlah menjustifikasi kondisi sebenarnya dari semua sekolah pinggiran di daerah pinggiran yang ada di Indonesia. Masih ada memang, dalam jumlah yang banyak, sekolah pinggiran yang juga terpinggirkan dari sisi kualitas hasil pendidikan. Tahun ini saja, menurut Mendikbud yang akrab disapa Pak Nuh itu, ada 24 sekolah pinggiran yang angka kelulusannya 0 persen alias semua peserta UN nya tidak lulus.

Maka sebenarnya, disinilah peran penting dari UN, yakni sebagai instrumen pemetaan atas kualitas pendidikan. Lewat perangkat bernama UN diketahui bahwa sekolah dengan sarana dan prasarana bagus serta tenaga pendidik berkualitas ternyata tidak mampu berprestasi. Sebaliknya, anak didik pada sekolah pinggiran bisa menggapai mimpi yang tinggi. Dari pemetaan seperti inilah akan ditemukan masalah sekaligus penyelesaiannya agar kualitas pendidikan, baik pada sekolah pinggiran atau pun yang ada di kota, bisa sama dan setara.

Karenanya, UN adalah kebutuhan pemerintah, kebutuhan untuk melakukan pemetaan. Pemerintah yang membiayai sepenuhnya pelaksanaan UN; anak didik dan sekolah tidak dibebani biaya apapun. Pemerintah juga tidak menjadikan UN sebagai satu-satunya penentu ketuntasan belajar anak didik, sebab fungsi evaluasi terletak pada pendidik. Tanpa perangkat bernama UN, lalu apa yang digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan pada sekolah di daerah pinggiran? (*)

Tags #pinggiran #unggulan